A. Teknik Pengelolaan Kelas
Kata “teknik” mempunyai arti yakni cara[1],
sedangkan pengelolaan kelas adalah serangkaian tindakan yang dilakukan
pembelajar dalam upaya menciptakan kondisi lingkungan pembelajaran yang positif
dan produktif agar proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan
tujuannya.[2]
Jika kedua pengertian di atas digabungkan, maka
teknik pengelolaan kelas dapat diartiakan sebagai cara seorang pembelajar
(guru) dalam mengolah pengelolaan kelas, bagaimana pengelolaan kelas tersebut
dilakukan, mau dibawa ke arah mana pengelolaan kelas tersebut agar proses
pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Menurut Joni (2007), terdapat dua macam teknik
pengelolaan kelas , yaitu massalah individual dan masalah kelompok. Masalah
individual yang kerap muncul adalah :
1.
Attention getting behaviors ( pola perilaku
mencari perhatian)
2.
Power seeking behaviors ( pola perilaku
menunjukan kekuatan)
3.
Revenge seeking behaviors ( pola perilaku
menunjukkan balas dendam)
4.
Helplessness ( peragaan ketidakmampuan)
Keempat masalah individual tersebut akan tampak
dalam berbagai bentuk tindakan atau perilaku menyimpang, yang tidak hanya
merugikan dirinya sendiri tetapi juga orang lain atau kelompok.
Sedangkan masalah kelompok, diantaranya :
1.
Kelas kurang kohesif, karena alasan jenis
kelamin, suku, tingkatan sosial ekonomi, dan sebagainya.
2.
Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang
telah disepakati sebelumnya.
3.
Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah
seorang anggotanya.
4.
“Membombong” anggota kelas yang justru
melanggar norma kelompok.
5.
Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya
dari tugas yang tengah digarap.
6.
Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada pembelajar, karena menganggap
tugas yang diberikan baik. Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan
baru.
Daftar Pustaka
Azhar, Imam. Pengelolaan Kelas dari Teoritis Ke Praktis.
2013. (Yogyakarta: Insyira).
nice
BalasHapus