Jumat, 30 Mei 2014

Disiplin Pada Level Sekolah & Kelas



           A.    Disiplin pada Level Sekolah dan Kelas
Sekolah, dalam upaya menciptakan disiplin secara nyata sudah barang tentu akan berusaha dan melinatkan berbagai unsur atau pihak. Misalnya: dalam guru dalam memberdayakan semua kebijakan; usaha mengidentifikasi secara jelas sebab-sebab siswa berperilaku menyimpang; bekerja sama secara erat dengan orang tua, dan para pembina atau pendamping sekolah. Sekolah juga menggunakan beberapa pendekatan untuk menanggulangi perilaku menyimpang para siswa melalui manajemen pembelajaran atau kurikuler.
Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan timbulnya problema disiplin adalah kegaduhan, corak suasana sekoah, pengaruh komunitas yang tidak diinginkan, ketidak teraturan dan ketidak ajegan dalam menerapkan peraturan atau hukum. Tipe-tipe penanggulangan problema disiplin ini biasanya didekati oleh pendekatan teknik manajerial. Misal, Kepala Sekolah dapat meminta staf sekolah, pembina, dan guru untuk mengetahui para siswa dan latar belakangnya, menyusun jadwal sebaik mungkin sehingga tidak terjadi satu kegiatan mengganggu kegiatan lain atau kegiatan berfluktuasi pada saat yang sama, menciptakan suasana seperti di rumah sendiri dengan memodifikasi sekolah secara artistik dengan tanaman hidup agar para siswa betah tinggal di sekolah.
Sekolah juga dapat mengurangi problema timbulnya gangguan disiplin dengan menjalin hubungan baik dan kerja sama dengan komunitas lingkungan sekitar dan aparat keamanan lingkungan. Hubungan kerjasama tersebut seperti memberi kesempatan tersebut seperti memberi keempatan kepada masyarakat sekitar memanfaatkan sebagai fasilitas sekolahdan melibatkan mereka untuk ikut serta membangun wilayah sekitar.
Disamping itu sekolah secara teratur menyampaikan laporan dan meminta laporan kepada aparat keamanan. Memberi laporan tentang kegiatan sekolah, misal laporan kegiatan penerimaan dan pengumuman penerimaan siswa baru, pengumuman kelulusan evaluasi belajar nasonal (EBTANAS), acara pekan olah raga dan seni dan sebagainya. Meminta laporan tentang situasi keamanan pada setiap saat, dan memberi kesempatan kepada yang berwajib memberi penyuluhan tentang gerakan disiplin nasional, bahaya narkotik, tertib lalu linas dansebagainya.
Banyak sekolah menghadapi bermacam-macam gangguan disiplin karena adanya watak suka merusak, perbuatan merusak fasilitas sekolah, merokok, dan penggunaan obat-obat terlarang dari para siswanya. Unsur utama dalam situasi belajar mengajar pada tingkatan sekolah, adalah kepatuhan. Perangsang atau stimulus, datangnya dari guru dalam membentuk pertanyaan atau tugas. Murid hanya menjawab atau melakukannya. Inisiatif anak sebisa mungkin dihambat. Disiplin, terutama bersifat negative dan jalannya pelajaran. Kebanyakan cara-cara mengajar masih dalam tingkatan seperti ini.
           B.     Sumber Pelanggaran
Siswa yang mengalami proses belajar, supaya berhasil sesuai dengan tujuan yang harus dicapainya, perlu memperhatikan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya itu. Adapun faktor-faktor itu dapat digolongkan sebagai berikut:
1.    Faktor internal, ialah faktor yang timbul dari dalam anak itu sendiri. Seperti kesehatan, rasa aman, kemampuan, minat dan sebagainya.
2.    Faktor eksternal, ialah faktor yang datang dari luar diri si anak. Seperti kebersihan rumah, udara yang panas, lingkungan dan sebagainya.
Pada kenyataannya sebab-sebab pelanggaran disiplin kelas itu sangat unik, bersifat sangat pribadi, kompleks dan kadang-kadang mempunyai latar belakang yang mendalam lain dari pada sebab-sebab yang nampak. Ketidak teraturan selama proses belajar mengajar dapat disebabkan juga oleh masalah yang ditimbulkan oleh para peserta didik. Walaupun demikian, memang ada juga sebab-sebabnya yang bersifat umum, misalnya:
a.    Kebosanan dalam kelas merupakan sumber pelanggaran disiplin. Mereka tidak tahu lagi apa yang harus mereka kerjakan karena yang dikerjakan itu ke itu saja. Oleh karena itu, harus diusahakan agar siswa tetap sibuk dengan kegiatan yang bervariasi sesuai dengan taraf perkembangannya.
b.    Perasaan kecewa dan tertekan karena siswa dituntut untuk bertingkah laku yang kurang wajar sebagai anak remaja.
c.    Tidak terpenuhinya kebutuhan akan perhatian, pengalaman atau keberadaan pribadi siswa/status.
Masalah pengelolaan kelas dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu masalah individual dan malah kelompok. Rudlof Dreikurrs dan pearl cassel membedakan empat kelompok masalah pengelolaan kelas individual yang didasarkan pada asumsi bahwa semua tingkah laku individu merupakan upaya pencapaian tujuan pemenuhan keputusan untuk diterima kelompok dan kebutuhan untuk diterima kelompok. Bila kebutuhan ini tidak tercapai melalui cara-cara yang lumrah, maka individu yang bersangkutan akan berusaha mencapainya dengan cara-cara yang lain. Perbuatan-perbuatan untuk mencapai tujuan dengan cara asosial tersebut adalah:
a.    Tingkah laku yang ingin memdapatkan  perhatian orang lain. Misalnya membadut dikelas.
b.    Tingkah laku yang ingin menunjuikan kekuatan. Misalnya selalu mendebat, atau kehilangan kenadli dan marah-marah.
c.    Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain. Misalnya berkelahi.
d.   Peragaan ketidak mampuan, yaitu dalam bentuk sama sekali menolak untuk mencoba melukan apapun karena yakin bahwa hanya keggalan yang menjadi bagiannya.
Lois V Johnson dan Mary A. Bany mengemukakan 6 kategori masalah kelompok dalam kedisiplinan pengelolaan kelas. Masalah-masalah yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a.    Kelas kurang kohesif. Misalnya perbedaan jenis kelamin, suku dan tingkatan sosio-ekonomi, dan sebagainya.
b.     Kelas mereaksi negative terhadap salah seorang anggotanya. Misalnya, mengejek anggota kelas yang dalam pengajaran seni suara menyanyi dengan suara sumbang.
c.    Membesarkan hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok. Misalnya, pemberian semangat pada badut kelas.
d.   Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.
e.    Semangat kerja yang rendah. Misalnya, semacam aksi protes kepada guru karena menganggap tugas yang diberikan kurang adil.
f.     Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Misalnya gangguan jadwal atau guru kelas terpaksa diganti sementara waktu.
DAFTAR PUSTAKA

Jones, Vern. Manajemen Kelas Komprehensif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012
Arikunto Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1993

SUMBER LAIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate