A.
Disiplin pada Level
Sekolah dan Kelas
Sekolah, dalam upaya menciptakan disiplin secara nyata sudah barang tentu
akan berusaha dan melinatkan berbagai unsur atau pihak. Misalnya: dalam guru
dalam memberdayakan semua kebijakan; usaha mengidentifikasi secara jelas
sebab-sebab siswa berperilaku menyimpang; bekerja sama secara erat dengan orang
tua, dan para pembina atau pendamping sekolah. Sekolah juga menggunakan
beberapa pendekatan untuk menanggulangi perilaku menyimpang para siswa melalui
manajemen pembelajaran atau kurikuler.
Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan timbulnya problema disiplin adalah
kegaduhan, corak suasana sekoah, pengaruh komunitas yang tidak diinginkan,
ketidak teraturan dan ketidak ajegan dalam menerapkan peraturan atau hukum.
Tipe-tipe penanggulangan problema disiplin ini biasanya didekati oleh
pendekatan teknik manajerial. Misal, Kepala Sekolah dapat meminta staf sekolah,
pembina, dan guru untuk mengetahui para siswa dan latar belakangnya, menyusun
jadwal sebaik mungkin sehingga tidak terjadi satu kegiatan mengganggu kegiatan
lain atau kegiatan berfluktuasi pada saat yang sama, menciptakan suasana
seperti di rumah sendiri dengan memodifikasi sekolah secara artistik dengan
tanaman hidup agar para siswa betah tinggal di sekolah.
Sekolah juga dapat mengurangi problema timbulnya gangguan disiplin dengan
menjalin hubungan baik dan kerja sama dengan komunitas lingkungan sekitar dan
aparat keamanan lingkungan. Hubungan kerjasama tersebut seperti memberi
kesempatan tersebut seperti memberi keempatan kepada masyarakat sekitar
memanfaatkan sebagai fasilitas sekolahdan melibatkan mereka untuk ikut serta
membangun wilayah sekitar.
Disamping itu sekolah secara teratur menyampaikan laporan dan meminta
laporan kepada aparat keamanan. Memberi laporan tentang kegiatan sekolah, misal
laporan kegiatan penerimaan dan pengumuman penerimaan siswa baru, pengumuman
kelulusan evaluasi belajar nasonal (EBTANAS), acara pekan olah raga dan seni
dan sebagainya. Meminta laporan tentang situasi keamanan pada setiap saat, dan
memberi kesempatan kepada yang berwajib memberi penyuluhan tentang gerakan
disiplin nasional, bahaya narkotik, tertib lalu linas dansebagainya.
Banyak sekolah menghadapi bermacam-macam gangguan disiplin karena adanya
watak suka merusak, perbuatan merusak fasilitas sekolah, merokok, dan
penggunaan obat-obat terlarang dari para siswanya. Unsur utama dalam situasi belajar mengajar pada tingkatan sekolah, adalah kepatuhan.
Perangsang atau stimulus, datangnya dari guru dalam membentuk pertanyaan
atau tugas. Murid hanya menjawab atau melakukannya. Inisiatif anak sebisa
mungkin dihambat. Disiplin, terutama bersifat negative dan jalannya pelajaran.
Kebanyakan cara-cara mengajar masih dalam tingkatan seperti ini.
B.
Sumber Pelanggaran
Siswa yang mengalami proses belajar, supaya berhasil sesuai dengan tujuan
yang harus dicapainya, perlu memperhatikan beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi hasil belajarnya itu. Adapun faktor-faktor itu dapat digolongkan
sebagai berikut:
1.
Faktor internal, ialah faktor yang timbul dari dalam anak itu sendiri. Seperti kesehatan,
rasa aman, kemampuan, minat dan sebagainya.
2.
Faktor eksternal, ialah faktor yang datang dari luar diri si anak. Seperti kebersihan rumah,
udara yang panas, lingkungan dan sebagainya.
Pada kenyataannya sebab-sebab pelanggaran disiplin
kelas itu sangat unik, bersifat sangat pribadi, kompleks dan kadang-kadang
mempunyai latar belakang yang mendalam lain dari pada sebab-sebab yang nampak.
Ketidak teraturan selama proses belajar mengajar dapat disebabkan juga oleh
masalah yang ditimbulkan oleh para peserta didik. Walaupun demikian, memang ada
juga sebab-sebabnya yang bersifat umum, misalnya:
a.
Kebosanan dalam kelas
merupakan sumber pelanggaran disiplin. Mereka tidak tahu lagi apa yang harus
mereka kerjakan karena yang dikerjakan itu ke itu saja. Oleh karena itu, harus
diusahakan agar siswa tetap sibuk dengan kegiatan yang bervariasi sesuai dengan
taraf perkembangannya.
b.
Perasaan kecewa dan
tertekan karena siswa dituntut untuk bertingkah laku yang kurang wajar sebagai
anak remaja.
c.
Tidak terpenuhinya
kebutuhan akan perhatian, pengalaman atau keberadaan pribadi siswa/status.
Masalah pengelolaan kelas dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu
masalah individual dan malah kelompok. Rudlof Dreikurrs dan
pearl cassel membedakan empat kelompok masalah pengelolaan kelas individual
yang didasarkan pada asumsi bahwa semua tingkah laku individu merupakan upaya
pencapaian tujuan pemenuhan keputusan untuk diterima kelompok dan kebutuhan untuk
diterima kelompok. Bila kebutuhan ini tidak tercapai melalui cara-cara yang
lumrah, maka individu yang bersangkutan akan berusaha mencapainya dengan
cara-cara yang lain. Perbuatan-perbuatan untuk mencapai tujuan dengan cara
asosial tersebut adalah:
a.
Tingkah laku yang ingin
memdapatkan perhatian orang lain.
Misalnya membadut dikelas.
b.
Tingkah laku yang ingin
menunjuikan kekuatan. Misalnya selalu mendebat, atau kehilangan kenadli dan
marah-marah.
c.
Tingkah laku yang
bertujuan menyakiti orang lain. Misalnya berkelahi.
d.
Peragaan ketidak
mampuan, yaitu dalam bentuk sama sekali menolak untuk mencoba melukan apapun
karena yakin bahwa hanya keggalan yang menjadi bagiannya.
Lois V Johnson dan Mary A. Bany mengemukakan 6
kategori masalah kelompok dalam kedisiplinan pengelolaan kelas. Masalah-masalah
yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a.
Kelas kurang kohesif.
Misalnya perbedaan jenis kelamin, suku dan tingkatan sosio-ekonomi, dan
sebagainya.
b.
Kelas mereaksi negative
terhadap salah seorang anggotanya. Misalnya, mengejek anggota kelas yang dalam
pengajaran seni suara menyanyi dengan suara sumbang.
c.
Membesarkan hati
anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok. Misalnya, pemberian
semangat pada badut kelas.
d.
Kelompok cenderung
mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.
e.
Semangat kerja yang
rendah. Misalnya, semacam aksi protes kepada guru karena menganggap tugas yang
diberikan kurang adil.
f.
Kelas kurang mampu
menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Misalnya gangguan jadwal atau guru kelas
terpaksa diganti sementara waktu.
DAFTAR PUSTAKA
Jones, Vern. Manajemen Kelas Komprehensif. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2012
Arikunto Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 1993
SUMBER LAIN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar