Kamis, 12 Juni 2014

Mind Mapping, Guided Note Taking & Every One Is The Teacher Here


             A.    Mind Mapping
1.      Pengertian Mind Mapping
Adapun yang dimaksud peta konsep adalah ilustrasi grafis konkret yang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan ke konsep-konsep lain pada kategori yang sama (Martin, 1994). Agar pemahaman terhadap peta konsep lebih jelas, maka Dahar (1989) yang diikuti oleh Erman (2003), mengemukakan ciri-ciri peta konsep sebagai berikut:
a.       Peta konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proporsi-proporsi suatu bidang studi, dengan menggunakan peta konsep siswa dapat melihat bidang studi itu lebih jelas.
b.      Suatu peta konsep merupakan gambar dua dimensi dari suatu bidang studi. Ciri inilah yang dapat memperlihatkan hubungan-hubungan proporsional antara konsep-konsep. [1]
Deporter menegaskan bahwa peta pikiran yang baik adalah peta pikiran yang warna-warni dan menggunakan banyak gambar dan simbol. Bayangkan sebua apel dalam benak anda. Pejamkan mata anda jika perlu. Apakah anda melihat apel itu hitam atau putih atau berwarna? Hampir semua orang melihat apel berwarna. Mengapa? Karena otak pikir dalam warna. Gunakan warna untuk memperkuat pengajaran dan belajar anda! Gunakan warna hijau, biru, ungu, dan merah untuk kata-kata penting, jingga dan kuning untuk menggarisbawahi, serta hitam dan putih untuk kata-kata penghubung seperti “dan”, “sebuah”, “dari”, dan lain-lain.[2]
Mind Mapping memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat di dalam diri seseorang.Dengan adanya keterlibatan kedua belahan otak maka akan memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal. Adanya kombinasi warna, simbol, bentuk dan sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima.[3]

2.      Langkah-langkah membuat Mind Mapping
Arends (1997), memberikan langkah-langkah dalam membuat peta konsep sebagai berikut :
a.       Memilih suatu bahan bacaan
b.      Menentkan konsep-konsep yang relevan
c.       Mengurutkan konsep-konsep dari yang inklusif ke yang kurang inklusif
d.      Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep yang inklusif diletakkan di bagian puncak peta lalu lalu di hubungkan dengan kata penghubung.[4]
3.      Macam-macam Peta Konsep ( Mind Mapping)
a.       Pohon Jaringan ( network Tree)
b.      Rantai Kejadian ( Events Chain)
c.       Peta Konsep Siklus ( Cycle Concept map)
d.      Peta Konsep Laba-laba (Spider Concept Map)

Contoh Mind Mapping
B.     Guided Note Taking
1.      Pengertian Guided Note Taking
Guided Note Taking atau catatan terbimbing adalah metode pembelajaran yang menggunakan suatu skema (handout) sebagai media yang dapat membantu siswa dalam membuat catatan ketika soerang guru sedang menyampaikan pelajaran dengan metode ceramah.[5]
Tujuan metode pembelajarn ini adalah agar metode cerama yang dikembangkan oleh guru mendapat perhatian siswa, terutama pada kelas yang jumlah siswanya cukup banya.

2.      Langkah-langkah GNT
a.       Beri siswa/mahasiswa panduan yang berisi ringkasan poin-poin utama dari materi pelajaran/ kuliyah yang akan anda sampaikan dengan strategi cerama.
b.      Kosongkan sebagian dari poin-poin yang anda anggap penting, sehingga akan terdapat ruang-ruang kosong dalam panduan tersebut.[6]
c.       Dapat juga diberi bahan jar (handout) yang tercantum didalam sub-topik dari materi pelajaran anda. Beri tempat kosong yang cukup sehingga peserta didik dapat membuat catan didalamnya.
d.      Bagikan bahan ajar yang anda buat kepada peserta didik. Jelaskan bahwa anda sengaja menghilangkan beberapa poin penting dalam handout, dengan tujuan agar peserta didik tetap berkonsentrasi mendengarkan pelajaran yang akan anda sampaikan.
e.       Setelah selesai menyampaikan materi, minta peserta didik untuk membacakan hasil catatannya.[7]
3.      Kelemahan GNT
a.       Guru akan ulit mengontrol kegiatan dan keberhailan siswa.
b.      Memerlukan waktu yang panjang, sehingga guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang ditentukan.
c.       Guru-guru yang sudah terlanjur menggunakan metode pembelajaran lama, sulit beradaptasi pada metode  pembelajaran baru.
d.      Menuntut para guru untuk lebih menguasai materi lebih luas lagi dari tandar yang telah ditetapkan.
e.       Biaya untuk penggandaan handout, bagi sebagian guru masih dirasakan mahal dan kurang ekonomis.[8]
4.      Kelebihan GNT
a.       Metode pembelajaran ini dapat digunakan sebelum, selama berlangsung, atau sesuai kegiatan pembelajaran.
b.      Metode pembelajaran ini cukup berguna untuk materi pengantar.
c.       Metode pembelajaran ini mudah digunakan ketika peserta didik harus mempelajari materi yang bersifat menguji pengetahuan kognitif.
d.      Metode pembelajaran ini cocok untuk memuali pembelajaran sehingga peserta didik akan terfokus perhatiannya pada istilah dan konsep yang akan dikembangkan dan yang berhubungan dengan mata pelajaran untuk kemudian dikembangkan menjadi konsep atau bagan pemikiran yang lebih ringkas.
e.       Metode pembelajaran ini memungkinkan siswa belajar labih aktif, karena memberikan kesempatan mengembangkan diri, fokus pada handoutdan materi ceramah serta diharapkan mampu memecahkan masalah sendiri dengan menemukan (discovery)dan bekerja sendiri.[9]
f.        

\         C.    Every One Is The Teacher Here

1.      Pengertian Every One Is The Teacher Here
Metode “setiap orang adalah guru” merupakan cara tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas secara keseluruhan maupun individual. Metode ini memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk berperan sebagai guru bagi teman-temannya.[10]

2.      Prinsip-prinsip Every One Is The Teacher Here
Dalam hal metode every one is a teacher here, dikemukakan oleh Asy Syaibany yang dikutip oleh Muhamad Nurdin menjelasakan bahwa
terdapat tujuh prinsip pokok yang harus diterapkan oleh seorang guru dalam hal metode pengajaran, yaitu:
a.       Mengetahui motivasi, kebutuhan, dan minat anak didiknya.
b.      Mengetahui tujuan pendidikan yang sudah diterapkan sebelum pelaksanaan pendidikan.
c.       Mengetahui tahap kematangan (maturity), perkembangan, serta perubahan anak didik.
d.      Mengetahui perbedaan-perbedaan individu anak didik.
e.       Memperhatikan pemahaman dan mengetahui hubungan-hubungan, dan kebebasan berfikir.
f.       Menjadikan proses pendidikan sebagai pengalaman yang menggembirakan bagi anak didik.
g.      Menegakkan contoh yang baik (uswatun hasanah).

3.      Aplikasi Metode Everi One is The Teacher Here
penerapan dari metode every one is a teacher here yaitu dimulai guru memberikan bahan/sumber bacaan yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan diajarkan. Siswa kemudian ditugaskan untuk membaca dan membuat sebuah pertanyaan dari materi/bahan yang sedang akan diajarkan.[11]
Pertanyaan tersebut dibuat dalam suatu kartu yang sebelumnya telah kartu tersebut dituliskan nomor absensi siswa yang dipersiapkan oleh guru. Setelah selesai siswa membuat pertanyan, kartu pertanyaan (card quest) tersebut dikumpulkan untuk kemudian dibagikan kembali kepada siswa secara acak.
Selanjutnya, yaitu siswa dari masing-masing kelompok diberi tugas untuk melakukan presentasi dengan membaca pertanyaan dan menjawabnya, ditunjuk yang disesuaikan dengan nomor absensinya dan siswa lain diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan. Guru pada tahapan ini dapat mengevaluasi (memberikan penilaian).
Berdasarkan uraian tersebut, melalui strategi pembelajaran metode every one is a teacher here, diharapkan siswa akan lebih bergairah dan senang dalam menerima pelajaran yang pada gilirannya tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dengan demikian, melalui metode every one is a teacher here tersebut, hasil yang diharapkan adalah:
a.       Setiap diri masing-masing siswa berani mengemukakan pendapat (menyatakan dengan benar) melalui jawaban atas pertanyaan yang telah dibuatnya berdasarkan sumber bacaan yang diberikan.
b.      Mampu mengemukakan pendapat melalui tulisan dan menyatakannya di depan kelas.
c.       Siswa lain, yang berani mengemukakan pendapat dan menyatakan kesalahan jawaban dari kelompok lain yang disanggah.
d.      Terlatih dalam menyimpulkan masalah dan hasil kajian pada masalah yang dikaji.



DAFTAR PUSTAKA

Azhar, Imam . 2013. Pengelolaan Kelas Dari Teoritis Ke Praktis.  (Yogyakarta: Insyira).
DePorter, Bobbi. Reardon, Mark & Singer-Nourie, Sarah. 2010. Quantum Teaching (mempraktikkan Quantum Learning Di Ruang-ruang Kelas). (Bandung: Kaifa).
Suprijono, Agus. 2011. Cooperative Learning. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar).
Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, 2011, Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta.







[1] Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, 2011, Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, hal 159.
[2]Bobbi DePorter, Mark Reardon, & Sarah Singer-Nourie, Quantum Teaching (mempraktikkan Quantum Learning Di Ruang-ruang Kelas), (Bandung: Kaifa, 2010), 106.
[4] Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, 2011, Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, hal 160.
[5] Agus Suprijono, Cooperative Learning, 2011, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hal :105.
[6]Imam Azhar, Op.Cit, 141.
[8]Ibid.
[9] Ibid.
[10] Agus Suprijono, Cooperative Learning, 2011, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hal :110.
[11]Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate