A.
Mind Mapping
1.
Pengertian Mind Mapping
Adapun yang dimaksud peta konsep adalah ilustrasi grafis konkret
yang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan ke
konsep-konsep lain pada kategori yang sama (Martin, 1994). Agar pemahaman
terhadap peta konsep lebih jelas, maka Dahar (1989) yang diikuti oleh Erman
(2003), mengemukakan ciri-ciri peta konsep sebagai berikut:
a.
Peta konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep
dan proporsi-proporsi suatu bidang studi, dengan menggunakan peta konsep siswa
dapat melihat bidang studi itu lebih jelas.
b.
Suatu peta konsep merupakan gambar dua dimensi dari suatu bidang
studi. Ciri inilah yang dapat memperlihatkan hubungan-hubungan proporsional
antara konsep-konsep. [1]
Deporter menegaskan bahwa peta pikiran yang baik adalah peta
pikiran yang warna-warni dan menggunakan banyak gambar dan simbol. Bayangkan
sebua apel dalam benak anda. Pejamkan mata anda jika perlu. Apakah anda melihat
apel itu hitam atau putih atau berwarna? Hampir semua orang melihat apel
berwarna. Mengapa? Karena otak pikir dalam warna. Gunakan warna untuk
memperkuat pengajaran dan belajar anda! Gunakan warna hijau, biru, ungu, dan
merah untuk kata-kata penting, jingga dan kuning untuk menggarisbawahi, serta hitam
dan putih untuk kata-kata penghubung seperti “dan”, “sebuah”, “dari”, dan
lain-lain.[2]
Mind Mapping memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang
terdapat di dalam diri seseorang.Dengan adanya keterlibatan kedua belahan otak
maka akan memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk
informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal. Adanya kombinasi warna,
simbol, bentuk dan sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi yang
diterima.[3]
2.
Langkah-langkah membuat Mind Mapping
Arends (1997), memberikan langkah-langkah
dalam membuat peta konsep sebagai berikut :
a.
Memilih
suatu bahan bacaan
b.
Menentkan
konsep-konsep yang relevan
c.
Mengurutkan
konsep-konsep dari yang inklusif ke yang kurang inklusif
d.
Menyusun
konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep yang inklusif diletakkan di
bagian puncak peta lalu lalu di hubungkan dengan kata penghubung.[4]
3.
Macam-macam Peta Konsep ( Mind Mapping)
a.
Pohon Jaringan ( network Tree)
b.
Rantai Kejadian ( Events Chain)
c.
Peta Konsep Siklus ( Cycle Concept map)
d.
Peta Konsep Laba-laba (Spider Concept
Map)
1.
Pengertian Guided Note Taking
Guided Note Taking atau catatan terbimbing adalah metode
pembelajaran yang menggunakan suatu skema (handout) sebagai media yang
dapat membantu siswa dalam membuat catatan ketika soerang guru sedang
menyampaikan pelajaran dengan metode ceramah.[5]
Tujuan metode pembelajarn ini adalah agar metode cerama yang
dikembangkan oleh guru mendapat perhatian siswa, terutama pada kelas yang
jumlah siswanya cukup banya.
2.
Langkah-langkah GNT
a.
Beri siswa/mahasiswa panduan yang berisi ringkasan poin-poin utama
dari materi pelajaran/ kuliyah yang akan anda sampaikan dengan strategi cerama.
b.
Kosongkan sebagian dari poin-poin yang anda anggap penting,
sehingga akan terdapat ruang-ruang kosong dalam panduan tersebut.[6]
c.
Dapat juga diberi bahan jar (handout) yang tercantum didalam
sub-topik dari materi pelajaran anda. Beri tempat kosong yang cukup sehingga
peserta didik dapat membuat catan didalamnya.
d.
Bagikan bahan ajar yang anda buat kepada peserta didik. Jelaskan
bahwa anda sengaja menghilangkan beberapa poin penting dalam handout, dengan
tujuan agar peserta didik tetap berkonsentrasi mendengarkan pelajaran yang akan
anda sampaikan.
e.
Setelah selesai menyampaikan materi, minta peserta didik untuk
membacakan hasil catatannya.[7]
3.
Kelemahan GNT
a.
Guru akan ulit mengontrol kegiatan dan keberhailan siswa.
b.
Memerlukan waktu yang panjang, sehingga guru sulit menyesuaikannya
dengan waktu yang ditentukan.
c.
Guru-guru yang sudah terlanjur menggunakan metode pembelajaran
lama, sulit beradaptasi pada metode
pembelajaran baru.
d.
Menuntut para guru untuk lebih menguasai materi lebih luas lagi
dari tandar yang telah ditetapkan.
e.
Biaya untuk penggandaan handout, bagi sebagian guru masih
dirasakan mahal dan kurang ekonomis.[8]
4.
Kelebihan GNT
a.
Metode pembelajaran ini dapat digunakan sebelum, selama
berlangsung, atau sesuai kegiatan pembelajaran.
b.
Metode pembelajaran ini cukup berguna untuk materi pengantar.
c.
Metode pembelajaran ini mudah digunakan ketika peserta didik harus
mempelajari materi yang bersifat menguji pengetahuan kognitif.
d.
Metode pembelajaran ini cocok untuk memuali pembelajaran sehingga
peserta didik akan terfokus perhatiannya pada istilah dan konsep yang akan
dikembangkan dan yang berhubungan dengan mata pelajaran untuk kemudian
dikembangkan menjadi konsep atau bagan pemikiran yang lebih ringkas.
e.
Metode pembelajaran ini memungkinkan siswa belajar labih aktif,
karena memberikan kesempatan mengembangkan diri, fokus pada handoutdan
materi ceramah serta diharapkan mampu memecahkan masalah sendiri dengan
menemukan (discovery)dan bekerja sendiri.[9]
f.
1.
Pengertian Every One Is The Teacher Here
Metode “setiap orang adalah guru” merupakan cara tepat untuk
mendapatkan partisipasi kelas secara keseluruhan maupun individual. Metode ini
memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk berperan sebagai guru bagi
teman-temannya.[10]
2.
Prinsip-prinsip Every One Is The Teacher Here
Dalam hal metode every one is a teacher here, dikemukakan oleh Asy
Syaibany yang dikutip oleh Muhamad Nurdin menjelasakan bahwa
terdapat tujuh prinsip pokok yang harus diterapkan oleh seorang guru dalam hal metode pengajaran, yaitu:
terdapat tujuh prinsip pokok yang harus diterapkan oleh seorang guru dalam hal metode pengajaran, yaitu:
a.
Mengetahui motivasi, kebutuhan, dan minat anak didiknya.
b.
Mengetahui tujuan pendidikan yang sudah diterapkan sebelum
pelaksanaan pendidikan.
c.
Mengetahui tahap kematangan (maturity), perkembangan, serta
perubahan anak didik.
d.
Mengetahui perbedaan-perbedaan individu anak didik.
e.
Memperhatikan pemahaman dan mengetahui hubungan-hubungan, dan
kebebasan berfikir.
f.
Menjadikan proses pendidikan sebagai pengalaman yang menggembirakan
bagi anak didik.
g.
Menegakkan contoh yang baik (uswatun hasanah).
3.
Aplikasi Metode Everi One is The Teacher Here
penerapan dari metode every one is a teacher here yaitu dimulai
guru memberikan bahan/sumber bacaan yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan
diajarkan. Siswa kemudian ditugaskan untuk membaca dan membuat sebuah
pertanyaan dari materi/bahan yang sedang akan diajarkan.[11]
Pertanyaan
tersebut dibuat dalam suatu kartu yang sebelumnya telah kartu tersebut
dituliskan nomor absensi siswa yang dipersiapkan oleh guru. Setelah selesai
siswa membuat pertanyan, kartu pertanyaan (card quest) tersebut dikumpulkan
untuk kemudian dibagikan kembali kepada siswa secara acak.
Selanjutnya,
yaitu siswa dari masing-masing kelompok diberi tugas untuk melakukan presentasi
dengan membaca pertanyaan dan menjawabnya, ditunjuk yang disesuaikan dengan
nomor absensinya dan siswa lain diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan.
Guru pada tahapan ini dapat mengevaluasi (memberikan penilaian).
Berdasarkan
uraian tersebut, melalui strategi pembelajaran metode every one is a teacher
here, diharapkan siswa akan lebih bergairah dan senang dalam menerima pelajaran
yang pada gilirannya tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dengan demikian, melalui
metode every one is a teacher here tersebut, hasil yang diharapkan adalah:
a.
Setiap diri masing-masing siswa berani mengemukakan pendapat
(menyatakan dengan benar) melalui jawaban atas pertanyaan yang telah dibuatnya
berdasarkan sumber bacaan yang diberikan.
b.
Mampu mengemukakan pendapat melalui tulisan dan menyatakannya di
depan kelas.
c.
Siswa lain, yang berani mengemukakan pendapat dan menyatakan
kesalahan jawaban dari kelompok lain yang disanggah.
d.
Terlatih dalam menyimpulkan masalah dan hasil kajian pada masalah
yang dikaji.
DAFTAR PUSTAKA
Azhar, Imam
. 2013. Pengelolaan Kelas Dari Teoritis Ke Praktis. (Yogyakarta: Insyira).
DePorter,
Bobbi. Reardon, Mark & Singer-Nourie, Sarah. 2010. Quantum Teaching
(mempraktikkan Quantum Learning Di Ruang-ruang Kelas). (Bandung: Kaifa).
Suprijono, Agus.
2011. Cooperative Learning. (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar).
Trianto,
Model-Model Pembelajaran Inovatif
Berorientasi Konstruktivistik, 2011, Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta.
[1] Trianto,
Model-Model Pembelajaran Inovatif
Berorientasi Konstruktivistik, 2011, Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta,
hal 159.
[2]Bobbi
DePorter, Mark Reardon, & Sarah Singer-Nourie, Quantum Teaching
(mempraktikkan Quantum Learning Di Ruang-ruang Kelas), (Bandung: Kaifa, 2010),
106.
[4]
Trianto, Model-Model Pembelajaran
Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, 2011, Prestasi Pustaka Publisher,
Jakarta, hal 160.
[5]
Agus Suprijono, Cooperative Learning, 2011, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hal
:105.
[6]Imam
Azhar, Op.Cit, 141.
[8]Ibid.
[9] Ibid.
[10]
Agus Suprijono, Cooperative Learning, 2011, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hal
:110.
[11]Ibid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar