Kamis, 30 Januari 2014

TEORI DAN KONSEP DESIGN PEMBELAJARAN



BAB I
PENDAHULUAN  
     A. Latar Belakang
Perencanaan sistem dan design pembelajaran itu tidak lepas dari teori dan konsep design pembelajaran, dengan kata lain teori dan konsep design pembelajaran itu sangat dibutuhkan dalam perencanaan sistem dan design pembelajaran. Kata teori sendiri itu mempunyai pengertian yakni, serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah. Labovitz dan Hagedorn mendefinisikan teori sebagai ide pemikiran “pemikiran teoritis” yang mereka definisikan sebagai “menentukan” bagaimana dan mengapa variable-variabel dan pernyataan hubungan dapat saling berhubungan. Untuk lebih jelasnya lagi penulis akan memaparkannya dalam penjelasan selanjutnya (bab II).

     B. Rumusan Masalah
1.    Bagaimanakah teori design pembelajaran?
2.    Bagaimanakah konsep design pembelajaran?

     C. Tujuan Pembahasan
1.    Untuk mengetahui teori design pembelajaran?
2.    Untuk mengetahui konsep design pembelajaran ?




BAB II
PEMBAHASAN
A.      Teori Design Pembelajaran
Secara sekilas dapat dijelaskan, bahwa teori belajar merupakan sumber hipotesis atau dugaan-dugaan tentang proses belajar yang telah teruji kebenarannya melalui penelitian dan pengalaman. Teori belajar bersifat deskriptif. Berbeda dengan teori belajar, teori pembelajaran berusaha merumuskan cara-cara untuk membuat orang dapat belajar dengan baik, teori ini bersifat preskriptif. Teori inilah yang digunakan oleh pembelajar (pendidik) dalam mengupayakan berbagai rekayasa untuk pebelajar (peserta didik) agar mau dan bisa belajar[1]
1.    Teori Behaviorisme
Teori ini merupakan aliran psikologi yang memandang individu dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental. Dengan kata lain, teori ini tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat, dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
2.    Teori Kognitivisme
Menurut kognitivis, belajar adalah proses pemaknaan informasi baru dengan jalan mengaitkannya dengan struktur informasi yang telah ada. 
3.    Teori Konstruktivisme
Penekanan pokok pada konstruktivis adalah situasi belajar, yang memandang belajar yang kontekstual.

B.       Konsep Desain Pembelajaran
Desain pembelajaran sebagai proses menurut Syaiful Sagala (2005:136) adalah pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus teori-teori pembelajaran unuk menjamin kualitas pembelajaran. Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa penyusunan perencanaan pembelajaran harus sesuai dengan konsep pendidikan dan pembelajaran yang dianut dalam kurikulum yang digunakan. Dengan demikian dapat disimpulkan desain pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik.[2]
Menurut Reigeluth Desain pembelajaran adalah Proses untuk menentukan metode pembelajaran apa yang paling baik dilaksanakan agar timbul perubahan pengetahuan dan ketrampilan pada diri pemelajar ke arah yang dikehendaki. Briggs mengemukakan desain pembelajaran adalah rencana tindakan yang terintegrasi meliputi komponen tujuan, metode dan penilaian untuk memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhan. Menurut Seels dan Richey Desain pembelajaran adalah Proses untuk merinci kondisi untuk belajar, dengan tujuan makro untuk menciptakan strategi dan produk, dan tujuan mikro untuk menghasilkan program pelajaran atau modul.
Morisson, Ross & Kemp (2007) mengartikan desain pembelajaran adalah suatu proses desain yang sistematis untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien, serta membuat kegiatan pembelajaran lebih mudah, yang didasarkan pada apa yang kita ketahui mengenai teori-teori pembelajaran, teknologi informasi, sistematika analisis, penelitian dalam bidang pendidikan, dan metode-metode manajemen.  Sedangkan menurut Herbert Simon (Dick dan Carey, 2006), mengartikan design sebagai pemecahan masalah. Dan Gagne (1992) menjelaskan design pembelajaran disusun untuk membantu belajar siswa.[3]
Dari pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar serta mencapi tujuan pengajaran yang telah ditetapkan dengan langkah-langkah penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pengajaran, penggunaan metode dan pendekatan pengajaran, dan penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan dalam waktu tertentu

C.      Komponen Utama Design Pembelajaran
1.      Pembelajar (pihak yang menjadi fokus), meliputi : karakteristik mereka,
2.      Tujuan pembelajaran (umum dan khusus) pembelajaran kompetensi yang akan dikuasi si pembelajar.
3.      Analisis pembelajaran, proses menganalisis atau materi yang akan dipelajari.
4.      Strategi pembelajaran
5.      Bahan ajar, format materi yang akan diberikan pada pembelajar
6.      Penilaian belajar, pengukuran kemampuan atau kopetensi yang sudah dikuasi atau belum.

D.       Fungsi Desain Pembelajaran
1.    Meningkatkan kemampuan Pembelajar (instruktur, guru, widyaiswara, dosen, dl
2.    Menghasilkan sumber belajar
3.     Mengembangkan system belajar mengajar
4.     Mengembangkan Organisasi menjadi organisasi belajar.
5.    Sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.
6.      Sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur guru maupun murid.
7.     Sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap saat diketahui ketetapan dan kelambatan kerja.
8.    Untuk bahan penyusunan data agar terjadi keseimbangan kerja.













BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan

Secara sekilas dapat dijelaskan, bahwa teori belajar merupakan sumber hipotesis atau dugaan-dugaan tentang proses belajar yang telah teruji kebenarannya melalui penelitian dan pengalaman. Teori belajar bersifat deskriptif. Berbeda dengan teori belajar, teori pembelajaran berusaha merumuskan cara-cara untuk membuat orang dapat belajar dengan baik, teori ini bersifat preskriptif. Teori inilah yang digunakan oleh pembelajar (pendidik) dalam mengupayakan berbagai rekayasa untuk pebelajar (peserta didik) agar mau dan bisa belajar

B.     Saran

            Penulis  menyadari akan kekurangan yang kami miliki dan dengan itulah kami akan menerima semua masukan dari para pembaca yang budiman, guna untuk menyempurnakan isi dari makalah ini. Penulis menyarankan untuk tidak hanya menggunakan makalah ini sebagai acuan referensi, karena makalah ini jauh dari kesempurnaan.













DAFTAR PUSTAKA

Dr. Sanjaya Wina, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta : Kencana, 2008)
Syaiful Sagala,  Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung , Alfabeta, 2005),  20.
Imam Azhar, Perencanaan sistem Desain Pembelajaraan, (Lamongan:STAIDRA,  2013), 03.



[1] Imam Azhar, Perencanaan sistem Desain Pembelajaraan, (Lamongan:STAIDRA,  2013), 03.
[2] Sagala Syaiful,  Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung , Alfabeta, 2005),  20.
[3] Dr. Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta : Kencana, 2008),  31.

Strategi penggunaan dan pengembangan media pembelajaran PAI







BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Pembelajaran disekolah pada saat ini mulai disesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi, sehingga terjadi  perubahan dan pergeseran paradigma pendidikan. Perkembangan pesat dibidang teknologi informasi khususnya internet, mempercepat aliran ilmu pengetahuan yang menembus batas-batas dimensi ruang, birokrasi, kemapanan, dan waktu. Program-program di internet bukan hanya menampilkan data dan informasi yang dapat ditransmisikan dengan kecepatan tinggi, tetapi juga ilmu pengetahuan yang dapat diakses secara cepat oleh penggunanya. Dan tentu saja kondisi ini berpengaruh pada kebiasaan dan budaya pendidikan yang dikelola selama ini.

Kemajuan dan perkembangan teknologi sudah demikian menonjol, sehingga penggunaan alat-alat bantu mengajar seperti alat-alat audio, visual serta perlengkapan sekolah disesuaikan dengan perkembangan jaman tersebut. Dan juga harus disesuaikan dengan tuntutan kurikulum sesuai dengan materi, metode, dan tingkat kemampuan belajar siswa agar dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik disekolah.

Untuk itu, para pengajar mulai berusaha membiasakan diri untuk menggunakan peralatan-peralatan seperti OHP, LCD, CD, VCD, video, computer dan internet dalam pembelajaran dikelas. dengan program pembelajaran yang dikembangkan ini patut dipelajari pengajar harus mempelajarinya agar mempermudah proses pembelajaran dan pendidkikan, sehingga memudahkan pembelajaran untuk berjalan dengan baik dikelas.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana strategi penggunaan media pembelajaran PAI ?
2.      Bagaimana Strategi Pengembangan media pembelajaran PAI?

C.     Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui strategi penggunaan media pembelajaran PAI
2.      Untuk memahami strategi pengembangan media pembelajaran PAI








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Strategi Penggunaan Media Berdasarkan Tempat
Pembelajaran adalah suatu kegiatan belajar mengajar yang melibatkan siswa dan guru dengan menggunakan berbagai sumber belajar baik dalam situasi kelas maupun di luar kelas. Berdasarkan tempat penggunaannya media pembelajaran ada dua pola, yaitu:[1]
1.      Penggunaan Media di Kelas
Pada teknik ini media dimanfaatkan untuk menunjang tercapainya tujuan tertentu dan penggunaannya dipadukan dengan proses belajar mengajar dalam situasi kelas. Dalam merencanakan pemanfaatan media tersebut guru harus melihat tujuan yang akan dicapai, materi pembelajaran yang mendukung tercapainya tujuan tersebut, serta strategi belajar mengajar yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut.
Media pembelajaran yang dipilih haruslah sesuai dengan ketiga hal tersebut, ialah tujuan, materi dan strategi pembelajaran. Yang terpenting dalam hal ini media tersebut disajikan di ruang kelas dimana guru dan siswa hadir bersama-sama berinteraksi secara langsung (face to face). Tentu saja media yang dapat digunakan di kelas adalah yang memungkinkan dilihat dari sisi biaya, berat dan ukuran, kemampuan siswa dan guru untuk menggunakannya, dan tidak membahayakan bagi penggunannya. Dalam kontesk ini media harus praktis, ekonomis, mudah untuk digunakan (user friendly).
2.      Penggunaan Media di luar Kelas
Seperti yang telah disinggung di atas, terdapat media yang penggunaannya di luar situasi kelas. Dalam hal ini media tidak secara langsung dikendalikan oleh guru, namun digunakan oleh siswa sendiri tanpa instruksi guru atau melalui pengontrolan oleh orang tua siswa. Penggunaan media pembelajaran di luar situasi kelas dapat dibedakan dalam dua kelompok utama, yaitu penggunaan media tidak terprogram dan penggunaan media secara terprogram.
*   Penggunaan Media Tidak Terprogram.
Penggunaan media dapat terjadi di masyarakat luas. Hal ini ada kaitannya dengan keberadaan media massa yang ada dimasyarakat, misalnya televisi, radio, penggunaan film melalui CD/DVD ROM, penggunaan media ini bersifat bebas yaitu bahwa media itu digunakan tanpa dikontrol atau diawasi dan tidak terprogram sesuai tuntutan kurikulum yang diberikan oleh guru atau sekolah. Pembuat media mendistribusikan program media tersebut di masyarakat, baik dengan cara diperjual belikan maupun didistribusikan secara bebas dengan harapan media itu akan digunakan orang dan cukup efektif untuk mencapai tujuan tertentu. Pemakai media dalam menggunakannya menurut kebutuhan masing-masing. Biasanya mereka menggunakannya secara perorangan. Dalam menggunakan media ini mereka tidak dituntut untuk mencapai tingkat pemahaman tertentu. Mereka juga tidak diharapkan untuk memberikan umpan balik kepada siapapun dan juga tidak perlu mengikuti tes atau ujian. Sehingga penggunaan media didasarkan atas inisiatif sendiri tanpa disuruh oleh pihak sekolah, medianya pun dapat diperoleh dimana saja, misalnya di toko buku, supermarket, pameran pendidikan, dan lain-lain.
*   Penggunaan Media Secara Terprogram
Penggunaan media ini dilakukan dalam suatu rangkaian kegiatan yang diatur secara sistematik untuk mencapai tujuan tertentu disesuaikan dengan tuntutan kurikulum yang sedang berlaku. Bila media itu berupa media pembelajaran, sasaran didik (audience) diorganisasikan dengan baik hingga mereka dapat menggunakan media itu secara teratur, berkesinambungan dan mengikuti pola belajar mengajar tertentu. Biasanya siswa diatur dalam kelompok-kelompok belajar. Setiap kelompok diketuai oleh pimpinan kelompok dan disupervisi oleh seorang tutor.
Sebelum memanfaatkan media, tujuan pembelajaran yang akan dicapai dibahas atau ditentukan terlebih dahulu. Kemudian mereka dapat belajar dari media tersebut secara berkelompok atau secara perorangan. Anggota kelompok diharapkan dapat berinteraksi baik dalam diskusi maupun dalam bekerjasama untuk memecahkan masalah, memperdalam pemahaman atau penyelesaian tugas-tugas tertentu. Hasil belajar mereka dievaluasi secara teratur. Untuk keperluan evaluasi ini pembuat program media perlu menyediakan alat evaluasi tersebut. . Pelaksanaan evaluasi dilatur oleh para tutor menggunakan kunci jawaban yang telah disediakan oleh pembuat program.

       
B.     Strategi Penggunaan Media Pembelajaran Berdasarkan Varian
 Dilihat dari variasi penggunaannya, Media dapat di gunakan baik secara perorangan, kelompok atau siswa dalam jumlah yang sangat banyak.
a.         Media dapat di gunakan secara perorangan (Individual Learning) maka perlu dilengkapi tape Recorder, Proyektor Film Bingkai, earphone, layar kecil dan sebagainya.
b.         Media dapat digunakan secara berkelompok (Big Group) berupa kelompok kecil dengan jumlah 2 sampai 8 atau kelompok besar berjumlah 9 sampai 40 orang
c.         Media yang digunakan secara Massal
Biasanya melalui Media Pemancar seperti Radio, Televisi atau di gunakan dalam ruang  yang besar seperti film 35 mm.




                             
C.    Langkah-Langkah Penggunaan Media Pembelajaran
Media pembelajaran yang telah dipilih agar dapat digunakan secara efektif dan efisien perlu menempuh langkah-langkah secara sistematis. Ada tiga langkah yang pokok yang dapat dilakukan yaitu persiapan, pelaksanaan/penyajian, dan tindak lanjut.[2]
1.      Persiapan
Persiapan maksudnya kegiatan dari seorang tenaga pengajar yang akan mengajar dengan menggunakan media pembelajaran. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan tenaga pengajar pada langkah  persiapan diantaranya:
a.    membuat rencana pelaksanaan pembelajaran/perkuliahan sebagaimana bila akan mengajar seperti biasanya. Dalam rencana pelaksanaan pembelajaran/perkuliahan cantumkan media yang akan digunakan.
b.    mempelajari buku petunjuk atau bahan penyerta  yang telah disediakan,
c.    menyiapkan dan mengatur peralatan yang akan digunakan agar dalam pelaksanaannya nanti tidak terburu-buru dan mencari-cari lagi serta peserta didik dapat melihat dan mendengar dengan baik.
2.      Pelaksanaan/Penyajian
Tenaga Pengajar pada saat melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran perlu mempertimbangkan seperti:
a.       yakinkan bahwa semua media dan peralatan telah lengkap dan siap untuk digunakan.
b.      jelaskan tujuan yang akan dicapai,
c.       jelaskan lebih dahulu apa yang harus dilakukan oleh peserta didik selama proses pembelajaran,
d.      hindari kejadian-kejadian yang sekiranya dapat mengganggu perhatian/konsentrasi, dan ketenangan  peserta didik.
3.      Tindak lanjut
Kegiatan ini perlu dilakukan untuk memantapkan pemahaman peserta didik tentang materi yang dibahas dengan menggunakan media. Disamping itu kegiatan ini dimaksudkan untuk mengukur efektivitas pembelajaran yang telah dilakukannya. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan diantaranya diskusi, eksperimen, observasi,  latihan dan tes.

D.    Prinsip-Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran
Penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran akan memberi kontribusi terhadap efektivitas pencapaian tujuan pembelajaran. Berbagai hasil penelitian pada intinya menyatakan bahwa berbagai macam media pembelajaran memberikan bantuan sangat besar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran. Namun demikian peran tenaga pengajar itu sendiri juga menentukan terhadap efektivitas penggunaan media dalam pembelajaran. Peran tersebut tercermin dari kemampuannya dalam memilih media yang digunakan. Penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran perlu mempertimbangkan beberapa prinsip, yaitu:[3]
1.      Tidak ada satu media pun yang paling baik untuk semua tujuan. Suatu media hanya cocok untuk tujuan pembelajaran tertentu, tetapi mungkin tidak cocok untuk pembelajaran yang lain.
2.      Media adalah bagian integral dari proses pembelajaran. Hal ini berarti bahwa media bukan hanya sekedar alat bantu mengajar guru saja, tetapi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Penetapan suatu media haruslah sesuai dengan komponen lain dalam perancangan pembelajaran. Tanpa alat bantu mengajar mungkin pembelajaran tetap dapat berlangsung, tetapi tanpa media itu tidak akan terjadi.
3.      Media apapun yang hendak digunakan, sasaran akhirnya adalah untuk memudahkan belajar peserta didik. Kemudahan belajar peserta didik haruslah dijadikan acuan utama pemilihan dan penggunaan suatu media.
4.      Penggunaan berbagai media dalam satu kegiatan pembelajaran bukan hanya sekedar selingan/pengisi waktu atau hiburan, melainkan mempunyai tujuan yang menyatu dengan pembelajaran yang berlangsung.
5.      Pemilihan media hendaknya objektif, yaitu didasarkan  pada tujuan pembelajaran, tidak didasarkan pada kesenangan pribadi tenaga pengajar.
6.      Penggunaan beberapa media sekaligus akan dapat membingungkan peserta didik. Penggunaan multi media tidak berarti menggunakan media yang banyak sekaligus, tetapi media tertentu dipilih untuk tujuan tertentu dan media yang lain untuk tujuan yang lain pula.
7.      Kebaikan dan kekurangan media tidak tergantung pada kekonkritan dan keabstrakannya saja. Media yang konkrit ujudnya, mungkin sukar untuk dipahami karena rumitnya, tetapi media yang abstrk dapat pula memberikan pengertian yang tepat.
E.     Manfaat Media Pembelajaran
Manfaat Media dalam Pembelajaran Secara umum, adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Tetapi secara lebih khusus ada beberapa manfaat media yang lebih rinci. Kemp dan Dayton (1985) misalnya, mengidentifikasi beberapa manfaat media dalam pembelajaran yaitu :
*   Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
*   Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik, media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi.
*   Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, Jika dipilih dan dirancang secara baik, media dapat membantu guru dan siswa melakukan komunikasi dua arah secara aktif selama proses pembelajaran.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
*      Media merupakan salah satu komponen komunikasi yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan. Dengan demikian, media pembelajaran dapat dijelaskan sebagai suatu alat bantu untuk menfalitasi pembelajarn. Media sendiri dapat berbentuk teks, audio, audio visual, objek manipulative dan orang.
*      Strategi pengembangan media pebelajaran adalah suatu cara pengembangan media dalam proses pembelajaran agar pebelajar lebih memahami pembelajaran.
*      Ada tiga langkah yang pokok yang dapat dilakukan dalam penggunaan media yaitu persiapan, pelaksanaan/penyajian, dan tindak lanjut.

B.     Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini sangat jauh dari sempurna, oleh sebab itu kami berharap melarang pembaca untuk menjadikan makalah ini sebagai refensi belajar, dan kami berharap agar pembaca membaca buku-buku lain untuk menyempurnakan makal ini. Sekian dari kami, kurang dan lebuhnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
















DAFTAR PUSTAKA
·         Azar Arsyad. (1997). Media Pengajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
·         Arief S. Sadiman, dkk. (1990). Media Pendidikan (Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya). Jakarta: CV. Rajawali
·         Cepi Riyana, M. Pd. 2007. Hakikat Pengembangan Pemanfaatan dan Penilaian:Bandung



SUMBER LAIN







[1] Cepi Riyana, M. Pd. 2007. Hakikat Pengembangan Pemanfaatan dan Penilaian:Bandung
[2] Arief S. Sadiman, dkk. (1990). Media Pendidikan (Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya). Jakarta: CV. Rajawali
[3] ibid

Translate